Ladies,
bagaimana pendapatmu mengenai memiliki suami yang status pendidikannya lebih
rendah darimu? Misalnya nih, kamu punya gelar S2 sementara suami lulusan SMA.
Memang sih cinta kadang tak mempersoalkan status pendidikan atau gelar sarjana.
Tapi kadang ada saja hal-hal yang serasa jadi batu sandungan.
Buat yang
sudah berpikiran terbuka, jelas nggak terlalu mempersoalkan status dan derajat
dalam gelar pendidikan. Toh, kecerdasan dan kemampuan berpikir seseorang bisa
lebih dari sekadar gelar sarjana. Selama bisa saling memahami, sama-sama
belajar membangun rumah tangga, dan menyelesaikan masalah bersama maka
segalanya akan berjalan dengan baik.
Masalahnya
Mungkin Soal Cibiran Orang-Orang Saja
Ah, hidup
di tengah masyarakat pastinya nggak pernah bisa lepas dari cibiran atau omongan
negatif dari orang lain. Ada saja omongan atau hal-hal yang dibicarakan di
belakang kita. Selama kamu dan suami bisa sama-sama saling menguatkan dan fokus
untuk membangun kebahagiaan, rasanya perkara ini bisa diatasi.
Status Tak
Seharusnya Jadi Sumber Masalah
Status
pendidikan tak seharusnya jadi sumber masalah atau terlalu dibesar-besarkan.
Apalagi harus dibawa-bawa saat sedang bertengkar. Bila dari awal sudah memiliki
komitmen dan tujuan jelas soal cinta dan rumah tangga impian yang ingin
dibangun, maka memang lebih baik memusatkan perhatian pada hal tersebut.
Memperjuangkannya dengan sebaik mungkin untuk kebahagiaan masing-masing.
Semua Akan
Sama-Sama Belajar Saat Sudah Menikah
Tak ada
yang lebih mengerti atau pintar ketika sudah menikah. Setiap pasangan akan
sama-sama belajar dari nol lagi saat sudah menikah. Belajar saling memahami,
mendewasakan, dan belajar untuk terus memperbaiki diri dari waktu ke waktu.
Terlebih ketika sudah memiliki anak atau buah hati maka pasangan harus bisa
bekerja sama untuk menciptakan keutuhan keluarga.
Kalau Ada
yang Salah, ya Saling Memaafkan
Jika kita
salah maka kita akan terbuka mengakui kesalahan tersebut. Dan bila pasangan
kita yang salah, maka dengan baik-baik kita coba untuk membantunya memperbaiki
kesalahan tersebut. Hidup satu atap pasti akan ada konflik atau masalah yang muncul.
Tinggal bagaimana kedewasaan dan kebijaksanaan kita untuk mengatasi setiap
persoalan yang ada.
