Perjalanan dua sejoli dalam
hubungan pacaran akan melalui fase-fase tertentu. Masing-masing fase memiliki
keunikan sendiri, yang lewatnya dua orang dalam hubungan akan memetik pelajaran
guna mendewasakan mereka. Apa sajakah fase-fase tersebut?
1.
Fase Kasmaran
Pasangan yang baru saja meresmikan hubungan akan
berada di fase kasmaran. Fase ini adalah masa yang paling indah dan menyenangkan. Seorang pria kasmaran
akan melihat wanita pujaannya sebagai seorang wanita sempurna tanpa cela, yang derajat kecantikannya jauh melebihi
wanita mana pun di muka bumi ini. Demikian pula dengan si
wanita, ia akan melihat pria dambaan hatinya sebagai seorang pria paling tampan
di muka bumi dengan segala rupa kebaikan tersimpan dalam hatinya.
Kedua sejoli yang sedang dimabuk asmara ini
seringkali mengabaikan kelalaian-kelalaian yang diperbuat pasangan. Terlambat
10 menit, lupa membawa benda yang dipesan, adalah hal yang akan dianggap wajar
- tidak menjadi soal. Ya, begitulah namanya pasangan yang sedang kasmaran.
Di
fase ini, hubungan akan lebih banyak didominasi oleh perasaan daripada akal
sehat. Karenanya,
kamu perlu berhati-hati, jangan sampai terbuai dibuatnya. Ingatlah bahwa
pasanganmu adalah manusia yang memiliki kekurangan, hanya saja saat ini belum nampak atau belum terlihat sepenuhnya.
2.
Fase Datar
Setelah 'mabuk' asmara mereda,
kamu akan memasuki fase datar. Di
fase ini, akal sehatmu akan mulai aktif bekerja.Kamu mulai dapat menilai
pasangan secara obyektif. Di fase ini, tak akan lagi muncul getaran-getaran di dalam dada
tatkala menerima pesan atau panggilan telepon dari 'Si Dia'. Semua
sudah terasa biasa saja. Ketika kamu melakukan kesalahan, pasanganmu akan
mulai bersikap kritis. Ia tak akan ragu menyinggung,
memperdebatkan, atau bahkan memarahimu. Kisah-kisah masa lalu pun tak jarang bermunculan
sebagai "bumbu penyedap" di fase ini.
Kelemahan demi kelemahan
masing-masing pihak akan mulai nampak. Kalian berdua akan mengalami
pertengkaran-pertengkaran. Banyak pasangan yang menyerah di fase ini.
Sebabnya? Tak mampu
menerima bagian yang buruk dari diri pasangan, atau dengan kata lain, hanya mau
menerima apa yang baik saja. Selain
itu, jenuh juga seringkali dijadikan alasan untuk
mengakhiri hubungan.
3. Fase
Penentuan
Di fase ini, kamu seharusnya sudah cukup mengenal pasangan,
kebiasaan-biasaan buruknya, apa yang ia sukai dan tidak sukai, serta
karakternya. Dapat dikatakan, hampir tak ada lagi kejutan yang
terlalu berarti dalam hubungan kalian. Kamu juga sudah dapat menerima dan memahami pasangan
dengan lebih baik. Kebiasaan meletakkan barang sembarangan,
lupa memberikan ucapan selamat ulang tahun tepat jam 12 malam karena ketiduran,
atau perilaku ajaib yang muncul di kala pasangan sedangbad mood, sudah
tak lagi menjadi masalah, bahkan terkadang, malah menjadi bahan bercandaan.
4.
Fase Pemantapan
Hubungan kalian sudah
stabil. Saatnya memikirkan rencana masa depan.
Siapkah kamu meminangnya
dan menjadikan dia sebagai pasangan yang sah dalam ikatan suci pernikahan? Siapkah kamu menjadi seorang suami dan kepala
keluarga? Siapkah kamu menjadi seorang istri?
Meskipun kalian telah
melewati setiap fase dari masa pacaran, pahamilah bahwa kalian berdua tetap akan menemukan dan perlu terus menerus mempelajari hal-hal baru saat
memasuki hidup pernikahan nantinya. Kamu mungkin akan kembali
terkejut ketika mendapati beberapa hal yang berbeda dari apa yang kamu pikirkan
tentang pernikahan di masa pacaran.
Meskipun keputusan
sepenuhnya ada di tangan kalian berdua, kalian juga perlu membicarakan hal ini
dengan keluarga masing-masing. Pernikahan bukan sekadar penyatuan dua pribadi: kamu
dan pasanganmu, tetapi adalah juga penyatuan dua keluarga.
Tak semua fase dapat dijalani dengan lancar. Selalu ada tantangan yang menghadang - yang lewatnya kita diberi kesempatan oleh Yang Kuasa untuk menyelesaikan dan mengambil pelajaran. Kalaupun hubungan harus berhenti di tengah jalan, akhiri dengan dewasa. Pastikan juga itu adalah keputusan yang diambil sebagai hasil pergumulan yang sangat matang.




