Menjalin
hubungan itu pasti butuh banyak pertimbangan, tak sekadar berkomitmen
tanpa arah. Nah, semua orang yang menjalin hubungan pasti berharap
akan menapaki tahapan lebih lanjut. Namun ada hal-hal yang
menghambat. Contohnya delapan tanda yang malah bikin hubunganmu
sia-sia dan tak memiliki masa depan.
1. Pasanganmu tidak menerimamu apa adanya.
Setiap
orang pasti punya sifat macam-macam, entah negatif, entah positif.
Begitu juga dengan kamu. Orang lain seharusnya bisa menerima semua
kekurangan, juga kelebihanmu. Kalau pasangan tidak bisa menerimamu
apa adanya, misalnya tidak bisa menerima pekerjaanmu dan menuntut
sesuatu, berarti kalian memang tidak ditakdirkan untuk bersama.
Jalinan hubunganmu dengannya hanya akan berakhir sia-sia.
2. Selalu muncul di benakmu: “Pasanganku tak boleh seperti itu, dia harus berubah.”
Mempertanyakan
siapa dia sebenarnya dan menuntutnya untuk berubah juga merupakan
ciri-ciri hubungan yang tak akan berlangsung lama. Sebab, yang ada di
benakmu adalah pertanyaan-pertanyaan dan tuntutan yang tak akan
menemukan jawaban serta kepuasan.
3. Kamu berjuang sendiri menangani masa-masa sulit.
Hubungan
tak akan menemukan masa depannya bila dua orang yang menjalani tak
saling menyokong. Sebab, hubungan terjalin lantaran didasari dengan
keintiman, kebahagiaan, kesenangan, juga sedih dan senang yang
sejatinya ditanggung bersama-sama. Kalau hanya seorang yang
menanggung susahnya, untuk apa?
4. Kebutuhanmu tidak terpenuhi oleh pasangan.
Kebutuhan
yang dimaksud di sini bukan hanya soal material, tapi juga perhatian.
Kalau mereka mampu memenuhi kebutuhan secara materi tapi tak pernah
memenuhi kebutuhan selayakya pasangan lain, ini akan terjadi nanti di
rumah tanggamu. Hubungan hanya akan berjalan dengan mindset money
oriented.
5. Kamu dan pasanganmu tidak pernah memiliki pikiran yang sejalan.
Jika
kamu dan dia siap untuk menikah, tapi selama berproses kalian tak
pernah menemukan pikiran yang sejalan, sepertinya hubungan kehidupan
rumah tanggamu akan sulit dibina. Sebab, pikiran adalah hal yang
paling mendasari sifat manusia. Kalau kedua pikiran tak pernah
sejalan, bagaimana kalian bisa menerima satu sama lain?
