Memilih pacar itu susah-susah gampang. Keputusan yang kamu ambil di awal akan mempengaruhi bagaimana kelanjutan hubunganmu nanti. Jadi, lebih baik diperhitungkan dengan tepat. Jangan asal memilih dengan alasan "ah, kan cuma mau cari pacar, bukan cari teman hidup..", daripada sudah terlanjur jatuh cinta tapi ternyata tidak bisa bersama seterusnya?
Sebagian orang mungkin menganggap itu sah-sah saja
selagi muda. Namun jika kamu merasa tak ingin buang-buang waktu,
baiknya kamu perhitungkan dengan matang setiap langkah yang kamu
ambil dalam menjalani hubungan. Perhatikan fase-fase berikut, deh.
Satu minggu pertama di masa penjajakan alias
pedekate, adalah waktunya kamu mencari-cari celah untuk
menemukan kenyamanan. Apakah kamu senang dengan cara tertawanya yang
terbahak-bahak? Apakah kamu dan dia nyambung saat ngobrol? Kalau saat
kencan kamu berharap waktu berjalan cepat, jangan jebak dirimu dalam
situasi serupa untuk kedua kalinya. Sebaliknya, jika merasa ada
kecocokan, lanjutkan masa-masa pedekate itu untuk mengenali
dia lebih jauh.
Satu bulan pertama sejak menjalin hubungan,
biasanya tak jauh beda dengan masa penjajakan. Bahkan mungkin masih
sama manisnya dan masih sama effort-nya untuk satu sama
lain, hanya saja, dengan status yang sudah meningkat; pacaran. Di
bulan-bulan pertama hubungan ini antara satu sama lain sebenarnya
masih dalam tahap pengenalan baik terhadap pasangan, lingkungan
sosialnya, aktivitasnya, maupun keluarganya. Dalam fase ini, kamu tak
perlu memburu-buru segala sesuatu. Nikmati saja!

Satu tahun pertama, hubungan sering disebut sebagai fase honeymoon. Pada fase ini, gelora masih terasa kuat, lika-liku hubungan juga masih terasa mengasyikkan. Kamu dan dia juga sudah merasa sudah cukup mengenal satu sama lain sehingga merasa lebih nyaman dan aman. Tapi di sisi lain, kenyamanan itulah yang biasanya membuat para pasangan lalai untuk melakukan sesuatu yang membuat pasangannya merasa istimewa.
Setiap fase memiliki tantangannya tersendiri. Bisa melewatinya atau tidak tinggal tergantung bagaimana kamu dan si dia menyesuaikan diri. Terlepas dari usaha yang dilakukan pasangan agar bisa bersama, faktor chemistry juga kadang berpengaruh, lho. Bagaimana chemistry-mu dengan pasangan alias gebetanmu?